Nasional

Haluan Bertransformasi, Tradisi Tetap Terjaga

CEO Haluan.co, Brian Putra Bastara.

RIAUMANDIRI.ID, JAKARTA - Harian Haluan pertama kali terbit tahun 1948 di Bukittinggi. Salah satu koran tertua di Indonesia ini kini bertransformasi menjadi haluan.co.

Pada 19 Desember 1951, Harian Haluan menerbitkan sebuah artikel yang memicu polemik besar di Sumatera Barat. Tulisan itu berjudul “Adat Bukan Bersendi Syarak”, ditulis oleh M.A Dt. Bungsu ketua bagian penerangan pengurus besar Partai Adat Rakyat.

Dalam tulisannya Bungsu menguraikan bahwa adat tidaklah sama dengan kebiasaan. Menurutnya, adat adalah pandangan hidup orang Minangkabau dan itu telah berlangsung sejak kurun waktu lama, sejak Islam belum masuk ke tanah Minang.

Ia bahkan menyamakan adat setingkat dengan agama, karena sama-sama merupakan pandangan hidup. Sebuah pandangan yang sudah tentu bertolak belakang dengan pandangan masyarakat Sumatera Barat pada umumnya saat itu.

Pandangan dari Bungsu itu tentu wajar, bila melihat latar belakang Partai Adat Rakyat yang punya perhatian terhadap sosialis dan komunis pada saat itu.

Meski pandangan yang berbeda itu muncul di koran, tidak lantas memicu kerusuhan. Tulisan itu dibalas dengan tulisan lain oleh orang yang tidak sependapat dengan Bungsu. Tulisan sanggahan itu pun diterbitkan di Harian Haluan pada 22 Desember atau tiga hari setelah tulisan Bungsu dimuat.

Tidak selesai di situ, pada 24 Desember diterbitkan lagi tulisan tanggapan lain masih di Harian Haluan. Saling beradu argumen di Harian Haluan itu terus berlanjut pada tanggal 4, 5, 7, 8, 9, 10 dan 11 Januari 1952. Totalnya ada sepuluh tulisan dari enam penulis yang saling adu argumen soal pandangan Bungsu di Harian Haluan. Ada yang mendukung, ada pula yang menentang.

Cerita saling berbalas gagasan itu dituliskan Gusti Asnan dalam buku Memikir Ulang Regionalisme: Sumatera Barat tahun 1950-an.

Yang menarik dari cerita ini bukan cuma soal bagaimana pandangan Bungsu, tapi juga bagaimana Harian Haluan sebagai media berani menampung gagasan yang berbeda dan memfasilitasi perdebatan panjang dua pemikiran yang berbeda.

Cerita macam ini sangat jangan ditemukan lagi pada masa sekarang, terutama pada media arus utama di Indonesia. Sikap Harian Haluan pada saat itu adalah buah dari idealisme demokrasi yang menjadi dasar pendirian surat kabar itu.

Harian Haluan pertama kali terbit pada 1 Oktober 1948 (versi lain April 1948 dan Mei 1948). Koran ini dirikan H Kasoema, seorang wartawan Demokrasi di Padang Panjang. Koran ini pertama kali terbit di Bukittinggi dan dinakhodai Darwis Abbas. Pada tahun 1949 Harian Haluan dipindah ke Padang (Sejarah Perkembangan Pers Minangkabau 1859-1945 hal.70).

Pada masa era pemerintahan Orde Baru, Harian Haluan adalah satu koran yang tetap kritis. Salah satunya terlihat dari pemuatan tulisan Memperingati 25 tahun Lahirnya PDRI yang ditulis oleh Moh. Rasyid pada 22 Desember 1974.

Gusti Asnan, dosen Sejarah Universitas Andalas dalam tulisannya yang berjudul PDRI Dalam Penulisan Sejarah menyebutkan bahwa akibat dari pemuatan tulisan itu Harian Haluan sempat mendapat “teguran” dari pemerintah.

“Apa yang dilakukan Rasyid adalah sebuah terobosan yang luar biasa. Rasyid telah memberanikan diri melanggar “pakem” penulisan sejarah bangsa... Walaupun demikian, penerbitan itu konon berbuntut “teguran” oleh penguasa terhadap harian Haluan yang mempublikasikannya,” tulis Asnan.

Masa Sulit Haluan

Pada 17 April 1959, Haluan sempat menghentikan penerbitannya. Koran ini dihidupkan lagi pada 1 Mei 1969 di bawah PT. Ranah Indah. Dalam buku Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa: Sebuah Studi Critical, Ibnu Hamad menyebutkan diterbitkannya lagi Haluan berbuah hasil baik.

“Sejak itulah, Haluan mulai berkembang dan mulai mampu mengganti mesin cetak (1 Maret 1976) dan menambah satu unit mesin cetak lagi pada 1 Desember 1980. Jumlah halaman pun bertambah dari 8 halaman menjadi 12 halaman,” tulis Ibnu.

Selain itu, ekspansi bisnis pun semakin meluas. Daerah pemasaran Haluan saat itu meliputi hampir semua kabupaten di Sumbar dan juga ke Riau, Jambi, Bengkulu dan Jakarta. Namun pada menjelang reformasi hingga krisis moneter, market share Haluan menurun dari 5,8 juta pada tahun 1997 menjadi 5,4 juta pada 2001 (hal. 11).

Kondisi ini terjadi lantaran munculnya banyak media yang menjadi pesaing. Sayangnya Haluan kalah bersaing. Puncaknya adalah menjelang tahun 2010 di mana oplah menurun drastis dan pendapatan iklan pun melompong.

Pada kondisi kritis itu, Haluan diselamatkan oleh Basko Group. Per tanggal 1 November Haluan pun terbit dengan tampilan baru di bawah bendera PT Haluan Sumbar Mandiri. Sejak itu Haluan kembali menunjukkan taringnya dengan mengembangkan koran di Riau dan Batam.

Beradaptasi dengan Zaman

Memasuki era digital, Haluan berupaya menyesuaikan dengan zaman. Salah satunya dilakukan dengan mendirikan Haluan.co, portal berita yang mewarisi semangat Harian Haluan namun dengan kemasan digital.

Pada awal 2020, Haluan.co muncul dengan sejumlah produk unggulan, di antara berita pointer, Haluan Overview dan Haluan Explains. Sejumlah produk unggulan ini tidak sekadar pengembangan digital tapi juga upaya menjawab tantangan banjir informasi di era digital.

Menjamurnya berita hoaks dan misleading menjadi konsen Haluan.co. Sebagai media pendatang baru di kancah nasional, Haluan menawarkan format berita pointer dan memiliki konteks untuk mencegah disinformasi terjadi.

“Kalau kita membaca media sosial banyak sekali pemberitaan yang dipelintir sehingga informasi menjadi bias, Haluan menawarkan pendekatan baru dengan membuat berita pointer dengan konteks sehingga tidak menyesatkan,” kata Brian Putra Bastara, CEO Haluan.co.

Selain itu untuk memerangi misleading, Haluan menerapkan explanatory journalism sebagai kiblat. Di Indonesia genre ini belum banyak digunakan oleh media arus utama yang sebagian masih terjebak pada kecepatan yang sering kali menumpulkan akurasi.

Explanatory journalism ini diwujudkan dalam dua produk berita yakni Haluan Overview dan Haluan Explains. Overview merupakan berita dengan ulasan suatu peristiwa atau fenomena dengan data sekunder disertai infografis. Pokok dari produk ini adalah menjelaskan duduk perkara suatu peristiwa sehingga bisa dipahami secara utuh oleh pembaca.

Sedangkan Haluan Explains menggunakan format video untuk menjelaskan suatu peristiwa dengan memberikan konteks yang tepat. Riset dan pengemasan visual yang apik jadi keunggulan produk ini.

Selain tiga inovasi tersebut, Haluan.co juga tengah menyiapkan dua produk lainnya yakni Indepth Reporting dan Graphics Story. Dua produk ini adalah bentuk komitmen Haluan terhadap tradisi kritis yang sudah diwariskan pendahulu.



[Ikuti Riaumandiri.id Melalui Sosial Media]