Gagasan

Adakah Perumpamaan Indonesia dalam Alquran

Oleh: Prof Dr Alaiddin Koto, MA

RIAUMANDIRI.ID - Ada dua ayat dalam surat al-Nahl yang bila dipahami secara substansial akan berarti bahwa Allah membuat perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dulu penduduknya aman tentram, rezki datang melimpah ruah dari segenap penjuru negeri, tetapi mereka berbuat kekufuran dengan nikmat-nikmat itu. Allah pun telah mendatangkan utusan (rasul) dari golongan mereka sendiri untuk memberi peringatan sebelumnya, namun utusan itu mereka engkari. Maka, Allah timpakan kepada mereka azab berupa rasa ketakutan dan kelaparan tersebab perbuatan dan kezaliman yang telah mereka lakukan (QS.16: 112-113).

Membaca dua ayat di atas mengingatkan saya ke masa-masa tahun 1960an sampai awal-awal tahun 1980an. Indonesia begitu aman. Rumah ditinggal tanpa dikuncipun tetap aman. Berjalan di malam hari di tahun 1970an tanpa rasa takut maling atau rampok, padahal belum ada listrik—terutama di desa—waktu itu. Perasaan takut mungkin hanya ada dengan binatang buas kalau berjumpa di jalan. Saya naik sepeda dari Bukittinggi ke kampung sejauh sembilan kilo meter tanpa lampu sama sekali dengan perasaan yang sangat aman. Berpapasan dengan orang lain di tengah jalan, walau suasana remang-remang karena cahaya bintang atau bulan, tetap saling tegur sapa tanpa menyebut nama, karena memang tidak tahu siapa yang disapa, dan tidak ada yang saling ganggu. Rumah di desa dan bahkan juga di kota tidak ada jendelanya yang pakai teralis besi. Malam hari terasa nyaman. Tidur ditemani suara jangkrit dan burung malam di hutan-hutan kecil atau dari sawah di dekat rumah. Rasanya begitu aman, nyaman. Ketentraman yang begitu syahdunya.

Padi di sawah bagaikan hamparan permadani hijau dan kuning, memancarkan cahaya kemilau diterpa mentari siang . Burung pipit beterbangan berkejar-kejaran ke sana-sini sambil bernyanyi meliuk-liuk mengitari sawah yang padinya sedang menguning, tak ubahnya anak-anak desa yang menari-nari dengan gembira hati di senja yang sejuk. Kesyahduan semakin menembus hati ketika hamparan sawah luas yang dikelilingi bukit-bukit hijau diterpa mentari senja sebelum tenggelam ke peraduannya di ufuk Barat. Sungguh, terasa betapa indah dan indahnya negeri Indonesia, Qith’atun min al-Jannah nuqilat ila al-Dunya, sekeping surga yang dipindahkan Tuhan ke atas bumi, kata Profesor Muhammad Syaltut, Rektor Univesitras al-Azhar, Mesir, ketika berkunjung ke negeri ini puluhan tahun yang silam.

Itu lah Indonesia dulu. Negeri gemah ripah loh jinawi. Penduduknya begitu ramah. Tidak ada seorang musafir pun yang lewat di depan rumah, kecuali diajak singgah untuk sekedar minum melepas dahaga. Hampir tidak ada sawah yang dipanen sendiri oleh yang empunya, kecuali orang kampung datang membantu bergotong royong. Menuai padi bersama. Ketawa bersama. Makan bersama. Membawa hasil panen ke rumah bersama dalam suasana suka cita. Bahkan, tidak ada rumah yang dibangun sendiri tanpa melibatkan orang kampung ikut menyumbang tenaga. Semua terasa begitu indah. Begitu mengasyikkan. Bagaikan berada di surga yang dipindah ke atas dunia.

Ya. Orang sering bilang, Indonesia tanah surga. Indonesia negeri surga. Surganya dunia. Allah begitu sayang ke tanah air ini, ke penduduk negeri ini. Semua ada. Semua tersedia. Semua adalah harta yang  tidak ternilai harganya. Di dalam tanah. Di atas tanah. Di dalam dan di dasar laut. Di sungai dan parit-parit kecil sekalipun ada bermacam ikan yang siap ditangkap kapan saja diperlukan. Mau makan apa saja, semua ada. Mau pakai apa saja, semua tersedia dan tinggal mengolah saja. Benar, tidak salah bila orang mengatakan “Indonesia tanah surga.”

Tentu, adalah logis untuk berkata, sebagai orang yang tinggal di tanah surga, berarti orang Indonesia adalah penduduk surga. Seperti nabi Adam dan Hawa ketika mula dicipta. Allah suruh Adam dan istrinya tinggal di surga dengan segenap kesenangannya.“Makanlah semua yang kamu suka sepuas-puasnya. Buatlah yang kamu suka sesuka-sukanya.Tapi, jangan kamu dekati satu pohon ini. Jika kamu dekati, maka jadilah kamu sebagai orang yang zhalim,” firman  Allah yang tertuang dalam surat  al-Baqarah ayat 35.

Ayat itu mengingatkan Nabi Nabi Adam supaya tidak melanggar larangan Allah bila ingin tetap tinggal di surga. Bila patuh dengan larangan itu, maka Adam diberi hak untuk tinggal selamanya bersama istrinya dalam surga.Tetapi bila melanggar larangan itu, maka Adam masuk dalam kategori orang yang zalim, sementara kezaliman adalah syarat utama datangnya hukuman Allah.

Begitulah tamsilan untuk dijadikan iktibar bagi bangsa Indonesia hari ini. Bumi ini begitu indah dan kayanya.  Allah menempatkan kita, bukan orang lain, tinggal di sini. Makanlah, minumlah, travelinglah kemana-mana menikmati keindahan alam yang diciptaNya, bersenang-senanglah dengan suasana dan udara yang menyejukkan mata dan jiwa. Tapi, satu hal harus diingat, ittaqullah, wa la tufsidu fi al-ardh. Bertakwalah kepada Allah dan Jangan rusak bumi yang sudah dicipta dengan begitu indah dan serasi ini (lihat QS.2:60, 28:77).

Kini, Indonesia sudah tidak seperti dulu lagi. Bagaikan Adam dan Hawa yang telah hidup senang, tenang, nyaman dan cukup semua keperluan di surga, namun karena tidak tahan godaan lalu melanggar larangan Allah, akhirnya dilempar ke bumi.  Hilang semua kenikmatan. Hilang semua ketentraman. Adam dan Hawa hidup dalam kenestapaan dan penyesalan, kesedihan dan kerinduan yang teramat  dalam berpisah ratusan tahun dengan orang yang dicintai di atas bumi. Indonesia sudah tidak seperti dulu lagi. Hutan yang dulu ditumbuhi pepohonan hijau dan lebat kini telah gundul akibat ditebang sesuka hati. Sungai yang dulu jernih dengan beragam ikan yang segar kini berubah menjadi kering, keruh dan tercemar oleh polusi. Laut yang dulu biru, kini bersampah dan berlumpur akibat limbah yang dibuang tanpa peduli. Udara yang dulu segar, kini  berubah gersang dan menyesakkan dada. Semua berubah karena melanggar larangan Allkah untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi. Semua menjadi berubah akibat keserakahan penduduk negeri yang datang dari dalam dan dari luar negeri. Maksiat berserak di mana-mana, seakan dibiarkan dengan sengaja. Orang luar masuk membawa budaya dan prilakunya dengan bebas, seperti diundang dengan sengaja. Seakan negeri ini akan diserahkan kepada mereka untuk mengurusnya. 

Masyarakat yang dulu damai, kini dilanda sengketa di mana-mana. Perasaan aman, nyaman dalam suasana keramahtamahan yang dulu dinikmati setiap hari, kini berganti menjadi was-was, khawatir, dan kecemasan menghadapi hari-hari yang dilalui. Sikap simpati, empati dan budi pekerti luhur yang dulu menjadi pakaian hampir semua penduduk, kini berubah menjadi ketidakpedulian, masa bodoh, selamatkan diri masing-masing. Hampir  tidak ada lagi larangan Allah yang tidak dilanggar, bahkan melanggar pun secara terang-terangan tanpa merasa bersalah, sehingga akhirnya berubah menjadi budaya dan karakter buruk yang membuat Allah menjadi murka, lalu mendatangkan azabnya tanpa disangka-sangka. 

Lalu, akankah bangsa Indonesia mengalami nasib serupa dengan Nabi Adam karena melanggar larangan Allah dan tidak taat kepada perintahNya itu ? Dibuang dari atas bumi, lalu ditenggelamkan ke dalam perut bumi. Atau bahkan lebih parah dari itu, karena yang kita lakukan jauh lebih parah dari apa yang dilakukan oleh Adam. Bila pelanggaran yang dilakukan oleh neneng moyang kita itu hanya sekali dan dihukum buang ke bumi, maka hukuman apakah yang paling layak ditimpakan kepada kita yang melakukan pelanggaran tidak terhitung banyaknya hampir setiap hari. 

Atau, mungkin Allah menangguhkan hukuman semisal yang diterima Adam secara pisik, tetapi memberi hukuman lain yang lebih menyakitkan secara kejiwaan, yaitu mencabut keberkahan dari semua anugerahNya yang masih ada di bumi surga ini. Kekayaan alam masih tersedia, tetapi keberkahannya diangkat semua, sehingga hidup terasa tinggal di neraka ? Kekayaan alam yang masih banyak tidak mendatangkan ketentaraman dan  kebahagiaan jiwa, melainkan  membawa bencana dan kesengsaraan jiwa ? Kekayaan itu diperebutkan orang yang datang “diundang” atau tidak diundang. Mereka seakan dibiarkan mengeruk semua dengan serakus-rakusnya, sementara penduduk negeri seakan dibiarkan menonton sesedih-sedihnya. Bukankah penderitaan semacam ini yang lebih menyakitkan dari pada penderitaan fisik yang dapat hilang dalam sekejap. Penderitaan jiwa adalah penderitaan yang sebenarnya, karena hakikat manusia adalah jiwanya, bukan raganya. Pendatang yang datang keruk semua kekayaan dengan penuh gairah, setelah itu pulang  tinggalkan masalah. Atau terus bertahan untuk terus menjarah, sampai pribumi menyerah kalah. Persis VOC yang akhirnya wujud menjadi penjajah. Penjajah yang amat serakah.Berabad-abad tidak mau mengalah.

Kini, mungkinkah sejarah akan berulang ? Mungkinkah Allah akan mencabut barakah nikmat tanah surga menjadi laknat kesengsaraan, persis yang difirmankanNya, “bila kalian bersyukur, akan ku tambah nikmat dengan nikmat berikutnya. Tapi bia kalian kufur Aku akan jadilan nikmat itu sebagai azab yang sangat menyakitkan.”(QS.Ibrahim:7).

Ayat itu mengingatkan bahwa nikmat yang digunakan untuk kekufuran (menjadikan nikmat untuk melanggar larangan Allah), akan diubah menjadi azab yang amat menyakitkan. Kekayaan yang  ada di negeri sendiri dijarah oleh orang lain dengan sesuka hati dan tidak memberi sedikitpun manfaat kepada penduduk, akan menimbulkan penderitaan batin yang mendalam bagi penduduk yang tidak bersyukur. 

Seperti disebut di atas, bukankah penderitaan yang sebenarnya  adalah pederitaan yang dirasakan oleh batin, bukan yang dirasakan oleh pisik ? Kalau ya, maka itulah penderitaan yang paling pedih seperti disebut oleh Allah dalam kitab suciNya. Orang yang datang, makan roti. Pribumi yang menyaksikan, makan hati. Pendatang pergi membawa harta. Pribumi yang tinggal, menanggung derita.

Kalau begitu, apa yang salah di negeri ini. Yang salah tentu orang yang ada di negeri ini.

Orang itu siapa, pemimpinkah atau rakyatkah? Ya, keduanya. Rakyat yang memilih pemimpin, dan pemimpin yang mengurus rakyat.

Kalau begitu, di mana harus dimulai ?

Allah menunjukkan jalan dalam surat al-Ra’d ayat 11 bahwa Allah tidak akan mengubah apa (benda, keadaan, atau peristiwa) yang ada di suatu kaum, sebelum masing-masing orang yang ada di kaum itu mengubah apa yang ada dalam dirinya sendiri.

Lalu, apa yang dimaksud dengan “apa yang ada dalam dirinya sendiri” dari orang yang ada dalam kaum itu ? Yang ada dalam dirinya tentu fikirannya dan perasaannya. Fikiran dan atau perasaan itulah yang harus diubah terlebih dahulu. Karena dari fikiran dan perasaan itulah lahirnya sikap untuk mementukan pilihan siapa yang akan dipilih sebagai pemimpin, atau apa yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin terhadap orang yang dipimpinnya.

Pertanyaan berikutnya adalah, siapa yang akan mengubah fikiran dan atau perasaan itu ? Jawaban yang sesungguhnya tentu Allah. Tapi, seperti ayat di atas, Allah tidak akan mengubahnya sebelum ada usaha yang sungguh-sungguh dari manusia untuk mengubah dirinya terlebih dahulu. Artinya, harus bermula dari manusia itu sendiri.

Lalu, bagaimana harus memulainya?

Tidak seorang pun mau berubah,  bila ia tidak memiliki kesadaran diri bahwa ia harus berubah. Lalu, bagaimana seseorang bisa memiliki kesadaran seperti itu? Jawabannya adalah keluar dari ketidaksadaran atau kebodohan. Dan tidak ada jalan lain untuk keluar dari kebodohan kecuali melalui pendidikan. Ya. Pendidikan, bukan sekedar sekolah. 

Di sinilah pemimpin memgambil peran utama dan pertama. Siapa saja yang menjadi pemimpin haruslah menjadi pelindung rakyatnya dari kebodohan. Pemimpin yang baik akan memaknai jabatannya sebagai amanah yang berdimensi spiritual, bukan kesempatan yang  berdimensi modial dan material.

Bagaimanapun, perubahan atau perbaikan harus bermula dan dimulai dari pemimpin yang berkesadaran bahwa negeri dan bangsanya harus berubah. Nilai spiritualitas harus menjadi roh kepemimpinnya, agar muncul kesadaran yang hakiki dari sumber spiritualitas itu sendiri, Tuhan, bukan nilai-nilai politik yang didominasi oleh kepentingan-kepentingan mondial material. 

Tapi, pertanyaan tidak akan berhenti sampai di situ. Bagaimana agar bisa mendapat pemimpin yang seperti itu?
Jawabannya: pertama, seperti di atas, rakyat harus keluar dari kebodohan. Berhentilah jadi orang bodoh; kedua, terus berdoa dan tidak berhenti berdoa, agar Allah menurunkan pemimpin yang mendahulukan kepentingan rakyatnya, termasuk untuk membawa rakyatnya keluar dari kebodohan. Diturunkan pemimpin yang takutnya hanya kepada Allah, tidak takut kepada yang lain, dan yang sayangnya hanya kepada rakyatnya, bukan kepada rakyat orang lain. ***

 

*Penulis adalah Guru Besar UIN Suska Riau dan Ketua Orwil ICMI Provinsi Riau



[Ikuti Riaumandiri.id Melalui Sosial Media]