Nasional

Megawati Bicara Soal Khilafah, PKI, hingga PNS Radikal

Megawati Soekarno Putri dan Mensos Juliari P Batubara dalam acara Workshop Kebangsaan untuk PNS di Lingkungan Kemensos, Jakarta, Senin (9/12). Foto: Andesta Herli Wijaya/kumparan

 

 

RIAUMANDIRI.ID, JAKARTA - Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Megawati Soekarnoputri berbicara banyak hal terkait kondisi bangsa saat ini dalam acara Workshop Wawasan Kebangsaan untuk PNS di lingkungan Kementerian Sosial. 

Presiden ke-5 RI itu sempat menyinggung masalah khilafah, PKI, insiden penusukan eks Menkopolhukam Wiranto, hingga PNS radikal.  

Terkait masalah khilafah, Megawati meminta pihak-pihak yang mendukung adanya khilafah untuk mengungkapkan gagasan dan pendapatnya secara baik-baik di DPR, tanpa harus membuat kerusuhan di masyarakat.

“Saya sudah membuka diri, tak usah main di jalanan merusak kepentingan umum dan sebagainya. Datang ke DPR, berbicara apa yang kamu maksud dengan konsep itu," kata Megawati di Gedung Konvensi TMPN Utama Kalibata, Senin (9/12).

Namun, Megawati menegaskan apabila pihak-pihak yang mendukung khilafah tak mau diatur, maka harus keluar dari Indonesia. Sebab menurut Megawati, Indonesia sudah punya Pancasila yang menjadi dasar negara.

“Mengapa Indonesia bisa mempunyai sebuah ideologi yang begitu mantap yang sebenarnya menjaga kedamaian dengan penuh kasih sayang, toleransi. Meskipun keberagamannya begitu besar,” ujarnya.

Megawati kemudian membandingkan pemahaman nilai Pancasila di kalangan anak muda dengan para tokoh BPIP yang usianya sudah tua. Meski sudah tua, namun mereka tetap setia pada pancasila. 

Ketua Umum PDIP itu pun heran masih ada anak muda dan kalangan PNS yang berpaham radikal. Ia mendesak agar PNS yang terpapar radikalisme untuk dipecat, karena tak akan ada gunanya.

"Masa kayak gini kalah, sudah gitu terkontaminasi (radikalisme) lagi. Ya elah. Langsung saja Pak Menteri, enggak usah apa-apa. Pecat sajalah, untuk apa sih?" kata Megawati kepada Mensos Juliari Batubara yang juga hadir dalam acara tersebut. 

Terkait radikalisme ini, Megawati kemudian menyinggung adanya gerakan PKI. Ia mengaku sempat heran, pada era Presiden ke-2 RI Soeharto, Bung Karno, disingkirkan karena dituding sebagai bagian dari PKI.

"Saya heran kok takut banget dia apalagi ketika zaman Pak Harto,  dengan segala hormat saya kepada beliau, tetapi kenapa yang namanya Bung Karno itu dibuat sedemikian rupa. Disingkirkan, dibungkam, rakyat tidak boleh berbicara," kata Megawati.

Megawati lalu mengenang momen ketika menjadi anggota DPR tiga periode dari Dapil Jawa Tengah. Ia menyebut sempat ada yang tidak berani berkenalan dengannya karena ia putri sang proklamator.
Padahal, kata Megawati, secara jelas Bung Karno adalah sosok yang berkorban demi kemerdekaan Indonesia dan merancang Pancasila.

"Saudara sekalian, begitu mudahkah orang membalikkan pikiran? Kalau beliau itu PKI, mengapa beliau proklamator? Kenapa beliau dihormati di begitu banyak negara?" ujarnya.

Selain itu, Megawati juga berbicara soal insiden penyerangan terhadap eks Menkopolhukam Wiranto beberapa bulan lalu di Banten. Ia menyoroti sikap orang-orang yang mudah menyerang orang lain hanya karena perbedaan pandangan.

"Itu lho kenapa kita rusak. Kalau enggak cocok langsung dibunuh. Enggak ngerti saya apa salah Pak Wiranto lho ya. Yang nusuk dia belum tentu kenalan Bapak Wiranto, main tusuk," jelas Megawati.

Menurut Megawati, sila kedua Pancasila -- kemanusiaan yang adil dan beradab -- harus semakin diamalkan untuk mencegah insiden itu kembali terjadi. 

"Apa kita sama sekali tidak punya rasa kasih sayang, tidak punya yang namanya perdamaian, tidak punya yang namanya toleransi.  Semua orang mencari kepercayaan masing-masing dengan nama agama, kenapa disalahkan," ujar Megawati. 

Ia mengatakan, nilai-nilai Pancasila harus ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Sebab, ia prihatin dengan aksi-aksi teror yang melibatkan anak-anak. Banyak pelaku terorisme yang menurunkan pahamnya kepada anak-anak mereka, dan justru bukan nilai-nilai Pancasila.

Percuma jika anak-anak diajarkan agama, namun bertujuan untuk membunuh sesama manusia. Megawati menegaskan sikap ini bukan ciri-ciri manusia Indonesia.

“Untuk apa kita diberikan sebagai seorang ibu? Apa itu peri kemanusiaan? Untuk membesarkan anak-anak kita menjadi orang yang pintar, orang yang punya budi pekerti. Bukan hanya beragama, lalu kerjanya setelah besar hanya bunuh orang," kata Megawati.

"Apa bisa setelah besar hanya bunuh orang? Apakah itu manusia Indonesia?,” pungkasnya.**
 



[Ikuti Riaumandiri.id Melalui Sosial Media]